May 8, 2013

Jarak Antar Anak

Pagi ini kembali saya dapat suatu "pandangan" di commuter line, tepat di sebelah saya duduk seorang ibu dengan membawa 3 orang anak, iya 3! kalau boleh di tebak masing-masing umurnya antara 7 thn, 4thn, dan 2thn. Cukup ideal ya secara logika.. Anak pertama perempuan, sekilas dia tampak dewasa mungkin karena harus ngemong adik- adiknya ya, sementara anak kedua dan ketiga nya laki-laki.
 
Saya belum pernah benar-benar merasakan membawa seorang anak berpergian, tapi yang saya lihat ibu ini tampak kerepotan sekali. Anak kedua nya tidak berhenti bicara dan protes, mulai dari kursi yang sempit,  ingin berdiri saja, tidak mau duduk dengan kakaknya sampai mau memanjat jendela.. sementara anak yang terkecil bolak-balik rewel karena dia ingin seperti kakaknya yang kedua juga, berdiri sendiri, duduk sendiri.
bagaimana dengan anak pertama? dia terpaksa berdiri sambil membawa barang-barang adiknya.. dan yang pasti they're all so noisyyy.. seperti anak-anak pada umumnya. hehehehee...
 
Yang mau saya garis bawahi disini, sebenarnya berapa sih jarak ideal antar anak yang satu dengan yang lainnya? ideal disini selain dilihat dari sisi finansial juga dilihat dari sisi kemampuan orangtua untuk memberikan perhatian ya.. Jarak antara saya dan adik saya cukup jauh, hampir 6 tahun, dengan pertimbangan, Ibu saya ingin benar-benar merasakan betapa nikmatnya punya anak pertama sebelum menambah anak kedua, dan ketika adik saya lahir, papa saya tidak pernah absen memberikan saya perhatian ketika ibu saya masih sibuk dengan her newborn baby. *quite make sense* memang setiap keluarga punya pertimbangan masing-masing ketika berencana menambah anak.
 
Tapi idealnya setiap anak bisa mendapat jatah yang sama bukan? *bdw, siapa sih yang gak mau hidup di dunia yang ideal?* :p

May 1, 2013

Ketika Waktu Berbelanja Tiba…


Memasuki usia 28 weeks, mulai deh saya lihat-lihat forum “Newborn Shopping List” mama sih nyaraninnya mulai belanja pas masuk 32 weeks saja, sekalian latihan jalan katanya.. *bisa gitu ya.. keluar masuk toko itungannya latihan jalan* 

sejujurnya saya memang belum punya bayangan apa aja sih kebutuhan bayi itu? Dari awal hamil fokus saya malah ke Little Gear nya, macam Baby Bouncer, Baby Bather, sampai Stroller.. lucu aja gitu liat bentuk dan motifnya yang lucu-lucu, saya juga sudah mulai mengkhayal tuh perlengkapan apa dan mainan apa yang kira-kira akan saya beli, bahkan saking sukanya saya ngeliatin Little Gear saya sampai bercita-cita selain punya Baby Bouncer Fisher Price juga pengen punya ELC Blossom Farm SitMe Up Cozy
padahal keduanya fungsinya gak jauh beda, cuma penampakannya ituuuu yang menggoda. Belum lagi playmate nya yang Einstein series, terus saya juga kepikiran untuk beli Box Bayi Graco, Stroller Cocolatte, apa lagi ya? Hehehehe… selama hamil ini lama-lama saya hapal loh merk perlengkapan bayi, walaupun belum khatam benerrr… *banyaakk banget jenis dan fungsinya ternyata*

Karena selama ini saya lebih fokus ke Little Gear, jadi bayangan saya harga barang-barang bayi yang mahal ya hanya seputar Little Gear nya itu saja, baju-baju mah standart lah ya.. tapi pandangan itu seketika berubah ketika saya mulai baca-baca, buka-buka, tanya-tanya, googling-googling “Apa saja sih yang harus dibeli untuk bayi baru itu?” Subhanallaahhh.. pusing loh! Awal-awal saya tanya dan cari info seputar popok kain, tidak lain tidak bukan hal ini disebabkan karena saya dapat banyak Cloth Diaper a.k.a Clodi dari salah satu sahabat saya, ada sekitar 7 buah clodi dengan masing-masing insert *apa itu insert? coba klik link diatas itu* sebanyak 2 lembar.. bisa bayangkan, saya yang selama ini istilahnya “yaudahlah ya untuk baju bayi…” tiba-tiba dapet sepaket clodi sebanyak itu, dengan pesan: “itu jangan lupa ya dicuci dulu min 3x lah, detergennya bla bla bla.. “ hah? Bagaimana itu maksudnya ya? Ya karena saya gak mau clodi itu jadi mubazir dan kadung penasaran juga, jadilah selama hampir semingguan saya sibuk bolak-balik melakukan tanya jawab seputar clodi di beberapa forum emak-emak, semata-semata untuk mencari ilmu dan hasilnyaaaa… saya tergoda untuk menambah beberapa clodi lagi, kalau bisa pengen punya cover dan AOR nya juga deh, jadi saya gak perlu repot-repot cuci popok kain kuno yang sehari katanya bisa habis sampai 20 popok untuk bayi baru. Wkwkwkwkwk… pakai disposable diaper sih kayaknya iya ya, tapi gak mau terlalu banyak juga, kasian tong sampah sama kantong bapaknya ntar. ;p

selesai dengan clodi *belum selesai bener sih* saya akhirnya memutuskan untuk mulai membuat list kira-kira apa saja yang akan dibutuhkan untuk Insya Allah menyambut bayi kami, kalau dilihat dari list yang dibuat oleh para mom-to-be isinya sih hampir sama, mulai dari kaos lengan pendek, kaos lengan panjang kancing, celana pendek, celana panjang, celana pop dkk kelihatannya sih simpel dan biasa banget, tapi dibalik kesederhanaan itu muncul nama-nama macam Libby, Nova, Miyo.. yes! We’re talk about brand! Setelah saya amati, teliti, dan review baik di dunia online maupun dunia nyata banyak yang sepakat merk Libby untuk baju newborn itu memang nyaman, bahan halus, dan tidak mudah melar. Eits, seperti biasa ada rupa ada harga, jadi karena saya memutuskan mau beli merk Libby, saya survey harga dong dan rata-rata Libby ini dijual seharga Rp.39000,-/3pc itu untuk jenis lengan pendek, berarti kalau saya mau ½ Lusin saya harus mengeluarkan kocek sebesar Rp. 78000,- keliatannya sih masih murah, tapi kalau saya butuh 5 variant berbeda dengan banyaknya masing-masing ½ lusin ditambah harga bervariasi mulai dari Rp 39.000 – 45.000/3pc, angka itu akan membengkak menjadi +/- Rp 400.000,- hehehehhe.. banyak tho? Intinya dengan list kebutuhan dasar yang saya inginkan total anggaran bisa mencapai Rp 1.500.000,- an.. fiuuuhh lap keringet dulu kita sodara-sodara.. 


selesai dengan kebutuhan dasar, beranjaklah kita ke kebutuhan ASIP alias Air Susu Ibu Perah, maklum kemungkinan status setelah melahirkan nanti Insya Allah belum berubah, masih menjadi karyawan swasta jadi saya harus mulai survey apakah saya butuh breast pump atau saya bisa menggunakan tangan pribadi alias teknik marmet untuk memerah? Berapa botol susu yang saya butuhkan untuk bayi saya nanti? Cooler bag seperti apa yang efektif untuk menyimpan ASIP saya? Apakah saya butuh bottle sterillizer? Bagaimana dengan botol susu dan dotnya? Lupa, saya dan ayah dedek juga harus membuat anggaran untuk Kulkas! Iyaaa.. Alhamdulillah, akhirnya sekarang kita punya rumah sendiri *horeeeee…* setelah hunting kurang lebih 17 bulan ketemu juga rumah yang sesuai dengan kantong dan bayangan-kami-walaupun-masih-agak-jauh-dari-rumah-impian. *sesi cerita tentang rumah beda lagi ya* entahlah berapa total untuk keperluan ASIP ini saya belum survey harga, saya sih berencananya mau coba jadi tukang palak dulu alias minta lungsuran botol-botol asip temen yang anaknya sudah mulai berkurang frekuensi ASIPnya.. hehehhee kan lumayan tuh dapet gratisan. 

Dan sekarang saya mulai mikir, rasa-rasanya hasrat saya untuk Little Gear HARUS dipending dulu deh, alias gak beli sekarang. Mungkin beli tapi yang bener-bener urgent dulu kali ya macam Baby Bather gitu, kan mandiin bayi susah tuh apalagi saya belum ada pengalaman sama sekali jadi baby bather ini akan membantu banget. Tapiiii kata orang-orang baby bouncer juga fungsi banget untuk taruh bayi biar dia gak rewel karena dilengkapi dengan musik dan bisa berayun, jadi emaknya bisa ngerjain yang lain, nggg habis itu strollerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……………….. ngggggggggg………………. *emaknya lama-lama error*
Ya Allah cukupkanlah rejeki kami Ya Allah, aamiin…


April 2, 2013

Our Bed Scenes



Judulnya Vulgar!! No it’s Just a tittle,  

Saya dan AFR sudah menikah kurang lebih 1 tahun 8 Bulan, tapi di tahun pertama pernikahan, kami sempat menjalani LDM alias Long Distance Married. Baru sekitar 7 Bulan kami benar-benar hidup bersama setiap hari, selama menjalani LDM komunikasi hanya sebatas Whatsapp , SMS, dan Telpon 1x/minggu, tidak jauh berbeda lah dengan orang pacaran LDR, bedanya kami sudah sah saja, jadi bisa santai bahas “apapun” yang kami mau. Hehhehee… memang dari segi komunikasi banyak orang yang menganggap kami “pelit” tapi kami berdua cukup enjoy menjalani bentuk komunikasi seperti itu, toh saya juga bekerja jadi agak sulit kalau kami melakukan hubungan telepon setiap hari atau bahkan beberapa jam per hari.

Dan ketika mulai hidup bersama saya berharap komunikasi kami bisa lebih intens, karena pasti akan lebih sering bertemu secara fisik dong ya, tapi pada kenyataan masih lumayan sulit memiliki suatu bentuk komunikasi yang rutin dan eksklusif untuk kami berdua. Saya selalu berfikiran saat sarapan bisa menjadi moment kami bertukar cerita, tapi pada kenyataannya itu tidak dapat dilakukan, hampir setiap pagi kami selalu terburu-buru untuk berangkat ke kantor, maklum rumah pinggir kota, kami harus rela berkejar-kejaran dengan waktu agar bisa sampai di kantor ontime. Selain itu AFR bukan tipe orang yang harus sarapan lengkap, terkadang dia cukup minum susu dan sedikit camilan sementara saya adalah tipe orang yang butuh sarapan lengkap, jadi dapat dibayangkan ketika dia sudah siap-siap berangkat ke kantor, saya masih berkutat dengan sarapan.

Banyak pasangan yang memanfaatkan waktu perjalanan ke kantor sebagai ajang bertukar cerita, saya dan AFR tidak bisa juga menggunakan cara seperti itu, kantor kami tidak searah sekalipun kami bisa berangkat bersama hanya sebatas tempat pemberhentian Bus, setelah itu kami harus pisah jalan. Kami juga bukan orang yang biasa chatting di internet maupun via handphone, dari sisi saya pribadi rasanya tidak etis saja di tengah-tengah suasana kerja malah asyik mengobrol tentang hal pribadi dengan pasangan, saya pun tahu load kerja AFR tidak memungkinkan hal seperti itu.

Satu-satunya kesempatan emas kami adalah “Our Bed Scenes” yes hanya di malam hari lah dan di tempat tidur lah kami bisa memulai bertukar cerita, tentang kegiatan harian kami, atau sesuatu yang unik yang kami temui di luar sana. Saya cukup bersyukur kami memiliki waktu malam, walaupun gak bisa bohong juga rasanya kalau kepala sudah menyentuh bantal tuh susah untuk tidak langsung tutup mata, apalagi AFR biasanya masih sibuk dengan gadgetnya. Sebenarnya ini yang kadang masih membuat saya kesal, memang saya juga suka menggenggam gadget saya ketika sudah naik tempat tidur, tapi bener loh akhir-akhir ini saya berusaha banget untuk mengurangi kebiasaan itu, saya berfikir,  saya butuh satu waktu eksklusif hanya untuk saya dan AFR tanpa ada orang ketiga,keempat,kelima atau gadget-gadget diantara kami. Alhamdulillah tidak ada televisi di dalam kamar kami, jadi setidak-tidaknya saingan saya hanya gadgetnya saja lah .. hehehhe..

Memang sih sampai sekarang kami belum ada pembicaraan tentang benda apa saja yang boleh dibawa ke atas tempat tidur, karena saya suka mangkel juga kalau tiba-tiba AFR bawa camilan, dan asyik makan di tempat tidur. *Eh saya gitu juga gak ya?* intinya, I always miss him a lot! Dan pengen ketika kami bisa berdua tuh gak ada hal apapun yang menganggu, dan ingin punya satu waktu rutin dimana kami bisa berbagi cerita apapun yang kami mau..